Rabu, Januari 28, 2009

Berdzikir



Berfikir saat berdzikir atau berdzikir saat berfikir ? Realitas berfikir seharusnya didasari atas dzikrullah, sedangkan realitas berdzikir adalah pengesaan Allah . Orang yang berfikir saat berdzikir akan tersesat dalam ribuan sketsa di kepala dan visual-visual yang muncul justru lebih banyak menjauhkan dirinya dari tujuan dzikir yang sebenarnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sedangkan berdzikir saat berfikir adalah proses penetralan atau meredam frekwensi otak sampai ketitik nol bahwa apaun yang kita fikirkan harus berakhir pada ridha Allah SWT dan ini sangat tidak mudah dilaksankan. Ketenangan hati bisa dicapai dengan berbagai cara jika kegundahannya bersifat materi atau duniawi. akan tetapi jika kegelisahan yang muncul dikarenakan sebuah pencarian jati diri dalam mengenal tuhannya, maka dzikir adalah jalan keluarnya. Permasalahannya metode seperti apa yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT ?

Bunyi-bunyian adalah salah satu terapi menenangkan hati, ketika kita mendengar aluanan musik yang mendayu-dayu maka saat itu suasana hati kita seperti ikut terseret oleh nada tersebut. Didalam lagu-lagu kebangsaan hampir semua memakai nada-nada tinggi untuk menggugah semangat juang, begitu juga dalam keagamaan seperti nyanyian di gereja atau lantunan pujian di wihara kesemuanya akan memunculkan nada-nada yang bisa mungubah suasana hati yang oleh para terapist (ahli terapi) hal ini dijadikan sebagai salah satu efek terapi. Didalam islam hal seperti ini pun bisa kita dapati dalam dzikir atau sholat berjamah, artinya bunyi secara temporer bisa membawa sesorang kedalam suasana syahdu, sedih, ceria dan bersemangat. Namun tidak sedikit yang terperangkap dalam spritualitas bunyi-bunyian seperti ini dimana kekhusyuan hanya di peroleh ketika lantunan kalimat tauhid secara berjamah menggelegar atau keindahan bacaan sang imam di masjid atau tangisan sang ustad di dalam dzikir berjamaah. dan ketika kesemuanya itu tidak ada maka hatipun terasa hambar.

Berdzikir juga tidak memerlukan jubah kebesaran, realitas dzikir bisa menghilangkan eksistensi diri dihadapan Allah, disisi lain ada segelintir orang yang terperangkap dalam simbol-simbol keagamaan dan merasa lebur dalam kelompoknya dan berusaha memfanakan diri dihadapan Allah, bagaimana mungkin dia bisa menyatu sementara dia baru saja mengidentifikasikan dirinya dari hamba Allah yang lain dengan jubahnya

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
YOUR ADSENSE CODE GOES HERE

1 comments:

geni on 15 Januari 2011 15.50 mengatakan...

apakah dzikir harus berirama

Posting Komentar

 

banner teman

Pengikut

| YULIANTIEZ | BELAJAR & BERBAGI © 2009. All Rights Reserved | Blogger Template by Blogger and Blogger Templates
Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |